Sabtu, 09 April 2011

BRYOPHYTA

BRYOPHYTA( TUMBUHAN LUMUT )
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Lumut merupakan tumbuhan kecil, lembut yang apakah secara khas tinggi 1-10 cm (0.4-4 inchi), meskipun beberapa jenis adalah banyak lebih besar. Mereka biasanya tumbuh berdekatan bersama-sama di dalam keset / dasar, perdu atau di tempat rindang. Mereka tidak mempunyai bunga atau biji, dan daun-daun yang sederhananya menutupi batang liat yang tipis. Pada lumut tertentu menghasilkan capsule spora yang nampak seperti paruh yang dilahirkan pada tangkai tipis. Ada kira-kira 10,000 jenis lumut digolongkan pada Bryophyta. Divisi Bryophyta dahulu mencakup tidak hanya lumut, tetapi juga liverworts dan hornworts. Sekarang ini lain, dua kelompok Bryophyta adalah ditempatkan dalam divisi tersendiri.Tumbuhan Bryophyta merupakan tumbuhan yang paling primitive yang tidak memiliki akar sesungguhnya, batang, atau tangkai. Mereka sejak lima ratus juta tahun.Bryophyta merupakan tumbuhan kecil, herbaceous yang tumbuh tertutup, selalu berkumpul menjadi alas bebatuan, tanah, ataupun menjadi epifit pada batang dan cabang tanaman. Bryophyta terbagi dalam 3 golongan yaitu:
1. Lumut Hati (Hepaticophyta)
Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing. Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan lunularia.
Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada hati. Siklus hidup lumut ini mirip dengan lumut daun. Didalam spongaria terdapat sel yang berbentuk gulungan disebut alatera. Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka , sehingga membantu memencarkan spora. Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi dengan cara aseksual dengan sel yang disebut gemma, yang merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan gametofit. Contoh lumut hati adalah Marchantia polymorpha dan porella
2. Lumut Daun
Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru. Contoh: Spagnum fibriatum, Spagnum squarosum.
Lumut daun banyak terdapat ditempat – tempat yang lembab, mempunyai struktur seperti akar yang disebut rizoid dan struktur seperti daun.
Siklus hidup lumut mengalami pergantian antara generasi haploid dengan diploid.
Sporofit pada umumnya lebih kecil , berumur pendek dan hidup tergantung pada gametofit. Contoh lumut ini antara lain: polytricum juniperinum, furaria, pogonatum cirratum, Aerobrysis longissima, dan lumut gambut sphagnum.
3. Lumut Tanduk
Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
Mempunyai gametofit lumut hati; perbedaannya adalah terletak pada sporofit lumut ini mempunyai kapsul memanjang yang tumbuh seperti tanduk dari gametofit, masing – masing mempunyai kloroplas tunggal yang berukuran besar, lebih besar dari kebanyakan tumbuhan lumut.Contoh lumut tanduk adalah anthoceros laevis.
Tumbuhan lumut termasuk golongan tumbuhan tingkat rendah yang filogenetiknya lebih tinggi dari pada golongan algae karena dalam susunan tubuhnya sudah ada penyesuaian diri terhadap lingkungan hidup di darat, gametangium dan sporangiumnya multiseluler, dan dalam perkembangan sporofitnya sudah membentuk embrio. Meskipun tumbuhan lumut hidup di darat tetapi untuk terjadinya pembuahan masih tetap memerlukan air, hingga tumbuhan lumut disebut sebagai tumbuhan amfibi. Tumbuhan lumut merupakan sekumpulan tumbuhan kecil yang termasuk dalam divisio Bryophyta (dari bahasa Yunani bryum, “lumut”).Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: “serupa akar”). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis.
II. PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Lumut
Secara ilmu tumbuhan, lumut termasuk Bryophyta, atau tumbuhan non vaskuler. Mereka dapat dibedakan dari yang serupa liverworts ( Marchantiophyta atau Hepaticae) dengan multi-cellular mereka rhizoids. Lain perbedaan bukanlah universal untuk semua lumut dan semua liverworts, yang membedakan “batang” dan “daun-daun”, ketiadaan daun-daun yang terbagi-bagi atau berlekuk, dan ketidakhadiran daun-daun diatur dalam tiga golongan, semua menunjuk tumbuhan lumut. Sebagai tambahan terhadap kekurangan suatu sistem vaskuler, lumut mempunyai gametophyte-dominant siklus hidup, yaitu. sel haploid untuk kebanyakan siklus hidupnya. Sporophytes (diploid) berumur pendek dan dependent pada atas gametophyte. Ini adalah berlawanan dengan pola aturan yang diperlihatkan oleh kebanyakan “tumbuhan tingkat tinggi”. Di dalam tumbuhan vaskuler, sebagai contoh, haploid generasi diwakili oleh pollen dan ovule, sedang diploid generasi adalah tumbuhan berbunga yang umum dikenal.
Ciri-ciri lumut:
• Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof. Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifit. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifit maka hutan demikian disebut hutan lumut.
• Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem). Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu: Alat kelamin jantan disebut Anteridium yang menghasilkan Spermatozoid. Alat kelamin betina disebut Arkegonium yang menghasilkan Ovum
• Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius). Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkna oleh sel telur.
• Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian bagian :- Vaginula (kaki) - Seta (tangkai) - Apofisis (ujung seta yang melebar) - Kotak Spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.
1.2 Klasifikasi
Klasifikasi lumut hati
Regnum : Plantae
Division : Hepaticophyta
Class : Hepaticosida
Ordo : Hepaticoccales
Family : Hepaticoceae
Genus : Hepaticopsida
Species : Hepaticiopsida sp
Klasifikasi lumut Daun
Regnum : Plantae
Division : Bryophyta
Class : Bryopsida
Ordo : Bryopceales
Family : Bryopceae
Genus : Bryopsida
Species : Bryopsida sp
1.3 Siklus Hidup
Kebanyakan dari tanaman memiliki dua bagian kromosom di sel-selnya (diploid, beberapa kromosom hidup dengan sebuah pasangan yang mengandung informasi genetik yang sama). Sedang lumut (dan Bryophyta lain) hanya memiliki satu set kromosom (haploid, beebrapa kromosom hidup dalam sebuah salinan sel yang unik). Periode siklus hidup lumut secara lengkap, merusak kromosom, tetapi hal ini hanya pada sporofit.
1.4 Ciri Siklus Hidup Lumut (Polytricum commune)
Lumut hidup diawali dari sebuah spora haploid, yang bertunas untuk memproduksi sebuah protonema, yang menumpuk filamen atau thalloid (flat dan thallus like). Ini merupakan tingkatan sementara dalam hidup lumut. Dari protonema tumbuh gametophore yang dideferensiasi menjadi tangkai dan akar/ leaves (mikrofil). Dari keterangan dari tangkai atau cabang develop organ sex lumut. Organ betina disebut archegonia (archegonium) dan terlindungi oleh kumpulan tangkai yang termodifikasi yang disebut perichaetum (plural, perichaeta). Archegonia memiliki leher disebut venters dimana sperma jantan turun. Organ jantan disebut antheridia (singular antheredium) dan tertutup oleh modifikasi tangkai disebut perigonium (plural, perigonia).Lumut bisa menjadi dioicous atau monoicous. Pada lumut dioicous, kedua organ sex, jantan dan betina terlahir pada gametofit tanaman. Pada monoicous (juga disebut autoicous) lumut, mereka terlahir pada tanaman yang sama. Pada pengairan, sperma dari antheridia berjalan ke archegonia dan terjadi fertilisasi, mengawali produksi sporofit diploid. Sperma lumut adalah biflagellate, mereka memiliki dua flagella yang membantu sebagai daya pendorong. Tanpa air, fertilisasi tidak dapat terjadi. Setelah fertilisasi, sporofit mandul didorong keluar dari archegonial venter. Ini membutuhkan kira-kira seperempat sampai setengah tahun untuk sporofit untuk matang. Badan sporofit terdiri dari gagang panjang, disebut seta, dan capsule disebut operculum. Capsule dan operculum terlapisi oleh calyptra yang merupakan sisa archegonial venter. Calyptra biasanya mengecil / berkurang ketika capsule matang. Withing the capsule, sel-sel pereproduksi spora mengalami meiosis untuk membentuk spora haploid, dimana siklus dapat berjalan lagi. Mulut capsule biasanya dikelilingi oleh set gigi disebut peristome. Ini mungkin tidak terjadi pada beberapa lumut.Pada beberapa lumut, struktur vegetatif hijau disebut gemmae yang diproduksi pada tangkai atau cabang, yang bisa merusak dan membentuk kembali tanaman tanpa perlu melalui fertilisasi. Ini disebut dengan reproduksi asexual.
1.5 Perkembangan
Perkembangan lumut secara singkat berlangsung sebagai berikut : spora yang kecil dan haploid, berkecambah menjadi suatu protalium yang pada lumut dinamakan protonema. Protonema pada lumut ada yang menjadi besar, adapula yang tetap kecil. Pada protoneme ini terdapat kuncup-kuncup yang tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan lumutnya. Tubuh tumbuhan lumut berupa tallus seperti lembaran-lembaran daun (hepaticae), atau telah mempunyai habitus seperti pohon kecil dengan batang dan daun-daunnya (pada musci), tetapi padanya belum terdapat akar yang sesungguhnya, melainkan hanya rizoid-rizoid yang berbentuk benang-benang atau kadang-kadang memang telah menyerupai akar. Pada tumbuhan inilah dibentuk gametangium.Setelah sel telur dibuahi oleh spermatozoid yang bentuknya seperti spiral atau alat pembuka gabus tutup botol dengan dua bulu cambuk itu, maka zigot tidak memerlukan waktu istirahat dulu tetapi terus berkembang menjdi embrio yang diploid.Bagian bawah embrio dinamakan kakinya. Kaki masuk ke jaringan lumut yang lebih dalam dan berfungsi sebagai alat penghisap (haustorium). Embrio itu lalu tumbuh merupakan suatu badan yang bulat atau jorong dengan tangkai pendek atau panjang dan seperti telah telah disebut di atas disebut sporogonium. Di dalam bagian yang bulat itu dibentuk spora, oleh sebab itu bagian tersebut juga disebut capsule spora. Capsule spora juga dianggap sinonim dengan sporogonium karena leher arkegonium amat sempit, maka sporogonium tidak dapat menembusnya dan bekas dinding arkegonium ikut terangkat dan merupakan tudung capsule spora. Mengingat bentuknya seperti tudung akar, pada ujung akar dan mungkin juga mempunyai fungsi yang sama sebagai pelindung, maka bekas dinding arkegonium itu juga dinamakan kaliptra. Jaringan dalam capsule spora dinamakan arkespora. Arkespora membentuk sel induk spora, dan dari satu sel induk spora dengan pembelahan reduksi terjadilah 4 spora yang berkelompok merupakan tetrade. Seringkali pada pembentukan spora itu ditentukan pula jenis kelaminnya. Dari spora itu, bergantung pada macam sporanya, akan utmbuh lumut yang berumah satu atau berumah dua. Spora itu membulat sebelum terpisah-pidah dan terlepas dari capsule spora.
1.6 Pergiliran Keturunan Tumbuhan Lumut
Tumbuhan lumut mengalami pergiliran keturunan dalam daur hidupnya. Apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan tahap gametofit (tumbuhan penghasil gamet) yang haploid (x = n). Dengan demikian, terdapat tumbuhan lumut jantan dan betina karena satu tumbuhan tidak dapat menghasilkan dua sel kelamin sekaligus.Sel-sel kelamin jantan (sel sperma) dihasilkan dari anteridium dan sel-sel kelamin betina (sel telur atau ovum) terletak di dalam arkegonium. Kedua organ penghasil sel kelamin ini terletak di bagian puncak dari tumbuhan. Anteridium yang masak akan melepas sel-sel sperma. Sel-sel sperma berenang (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah) menuju arkegonium untuk membuahi ovum.Ovum yang terbuahi akan tumbuh menjadi sporofit yang tidak mandiri karena hidupnya disokong oleh gametofit. Sporofit ini diploid (x = 2n) dan berusia pendek (3-6 bulan untuk mencapai tahap kemasakan). Sporofit akan membentuk kapsula yang disebut sporogonium pada bagian ujung. Sporogonium berisi spora haploid yang dibentuk melalui meiosis. Sporogonium masak akan melepaskan spora. Spora tumbuh menjadi suatu berkas-berkas yang disebut protonema. Berkas-berkas ini tumbuh meluas dan pada tahap tertentu akan menumbuhkan gametofit baru.
2.1 Macam-Macam Lumut
Lumut Hati (Hepaticopsida)

Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing. Bentuk tubuhnya berupa lembaran mirip bentuk hati dan banyak lekukan. Tubuhnya memiliki struktur yang menyerupai akar, batang, dan daun. Hal ini menyebabkan banyak yang menganggap kelompok lumut hati merupakan kelompok peralihan dari tumbuhan Thallophyta menuju Cormophyta. Lumut hati beranggota lebih dari 6000 spesies.Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan lunularia
Ciri-ciri
1. tubuhnya masih berupa talus dan mempunyai rhizoid
2. gametofitnya membentuk anteredium dan arkegonium yg berbntk spt payung.
3. sporofit perumbuhannnya terbatas krn tdk mempunyai jaringan meristematik
4. berkembang biak scr generatif dgn oogami, dan scr vegetatif dgn fragmentasi, tunas, dan kuncup eram
5. habitatnya ditempat lembab
Susunan Tubuh
Berdasarkan bentuk talusnya lumut dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
1). Lumut hati bertalus
2). Lumut hati berdaun
Menyerupai talus (dorsiventral), bagian atas dorsal berbeda dengan bagian bawah ventral. Daun bila ada tampak rusak dan tersusun pada tiga deret pada batang sumbu. Alat kelamin terletak pada bagian dorsal talus pada /pada jenis terletak pada bagian terminal, sporogonium sederhana tersusun atas bagian kaki dan kapsul atau kaki tangkai dan kapsul. Mekanisme merakahnya kapsul tidak menentu dan tidak teratur.
Seperti pita bercabang menggarpu dan menyerupai rusuk ditengah mempunyai rizoid. Pada rusuk tengah, terdapat badan seperti piala dengan tepi yang bergigi, yang disebut piala eram atau keranjang eram kepala atau mangkok. Kemudian puncup-puncup eram atau tunas yang disebut gema mudah terlepas oleh air hujan
Protonema lumut hati umumnya hanya berkembang menjadi suatu bulu yang pendek. Sebagian besr lumut hati mempunyai sel-sel yang mengandung minyak, minyak itu terdapat dalam bentuk yang spesifik kumpulan tetes-tetes minyak aksiri dalam bentuk demikian. Minyak tadi tidak pernah ditemukan pada tumbuhan lain.
Perkembang biakan
Secara aseksual, menggunakan spora dan tunas, secara seksual, ex: Maechantia. Anteridium terpancang pada permukaaan atas, bentuknya seperti cakram. Dasar bunga betina agak melebar dan membentuk paying, dengan cuping berbentuk jari, umumnya berjumlah 9. Arkegonium tumbuh pada alur-alur diantara cuping-cuping dengan leher menekuk ke bawah. Anteridium merekah mengeluarkan sperma menuju ke arkegonium. Generasi sporofit dari telur yang sudah dibuahi (zigot). Zigot membelah membentuk embrio (bentuk bola), bagian pangkal dari embrio membentuk kaki masuk kejaringan reseptakel. Bagian terbesar dari janin membentuk kapsulyang dipisahkan dari bagian kaki zona yang terdiri dari sel-sel yang disebut tangkai. Kapsul berisi sel induk spora yang berkelompok (elater) yaitu benang-benang memanjang dengan dinding bagian dalam terpilin. Setelah miosis terbentuklah tetraspora, tangkainya yang memanjang arkegonium yang melebar jadi pecah dan kapsul jadi terdorong ke bawah. Kapsul lalu mongering dan terbuka memancarkan spora, lepasnya spora dari kapsul dibantu dengan adanya elater yang sifatnya higroskopik. Akibat mengeringnya kapsul elater menggulung, menjadi kering dan mengadakan gerakan sentakan yang melempar spora ke udara
Lumut Daun ( Bryopsida sp)
Lumut daun dapat tumbuh di atas tanah-tanah gundul yang periodic mengalami masa kekeringan, bahkan di atas pasir yang bergerak pun dapat tumbuh. Selanjutnya lumut-lumut itu dapat kita jumpai di antara rumput-rumput, di atas batu-batu cadas, pada batang dan cabang-cabang pohon, di rawa-rawa tetapi jarang di air. Bryopsida merupakan class lumut terbesar, terdiri 95% dari seluruh spesies lumut, kira-kira 9.500 spesies.Kelompok ini terkenal dengan memilikinya spore capsules dengan gigi yaitu Arthrodontous; yang terpisah dari lainnya dan tergabung di dasar dimana mereka mengikat untuk membuka capsule. Gigi ini mengemuka saat penutup operculum jatuh. Pada kelompok lumut lain, capsule adalah nematodontous dengan operculum terikat, atau lainnya membuka tanpa operculum atau gigi.
Susunan Tubuh
Lumut daun pada substrat dengan menggunakan rizoid yang multiseluler yang dapat bercabang-cabang. Mempunyai daun yang berusuk dan tersusun dalam 3-8 deret pada sumbunya. Sumbu (batang) pada lumut daun biasanya menunjukkan deferensiasi menjadi epidermis, korteks, dan silinder pusat.
Perkembang Biakan
Alat-alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung cabang-cabangnya, dan dikelilingi oleh daun yang letaknya paling atas. Daun-daun itu kadang-kadang mempunyai bentuk dan susunan yang khusus dan seperti pada jungermaniales juga dinamakan Periantum.
Alat-alat kelamin itu dikatakan bersifat banci atau berumah satu, jika dalam kelompok itu terdapat kumpulan arkegonium dan anteridium terpisah tempatnya. Diantara alat-alat kelamin dalam kelompok itu biasanya terdapat sejumlah rambut-rambut yang terdiri dari banyak sel dan dapat mengeluarkan suatu cairan. Seperti pada tubuh buah fungi rambut-rambut steril itu dinamakan Parafisis.
Bryopsida
1. Bryopsida adalah kelas yang terbesar di antara anggota Bryophyta lainnya dan paling tinggi tingkat perkembangannya karena baik gametofit maupun sporofitnya sudah mempunyai bagian-bagian yang lebih kompleks.
2. Gametofit dari lumut daun umumnya dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu protonema yang terdiri dari benang bercabang-cabang, dan gametafora yang berbatang dan berdaun.
3. Sporogonium dari lumut daun terdiri atas bagian kaki, seta dan kapsul. Selanjutnya bagian kapsul mempunyai bagian-bagian yang dinamakan apofise, kotak spora atau teka, dan tutup atau operkulum. 4. Kebanyakan ahli bryologi membagi Bryopsida menjadi 3 anak kelas yaitu Sphagnidae, Andreaeidae, dan Bryidae. Perbedaan dari ketiga anak kelas tersebut terutama terletak pada struktur anatomi sporogoniumnya.
5. Anak kelas Sphagnidae mempunyai ciri-ciri antara lain: protonema berbentuk daun kecil yang terdiri dari satu lapis sel, gametafora pada ujungnya membentuk cabang-cabang sebagai roset yang menyerupai jambul dan tidak mempunyai rizoid. Sporofit didukung oleh perpanjangan ujung batang yang namanya pseudopodium.
6. Andreaeidae mempunyai persamaan dengan Sphagnidae dalam hal sporofitnya yang didukung oleh pseudopodium, tetapi berbeda dalam hal cara membukanya kapsul spora yaitu dengan membentuk 4 katup.
7. Anggota Bryidae yang tergolong Stegocarpi mempunyai peristoma pada kapsul sporanya, didasarkan atas sifat dari peristomanya Bryidae dibedakan menjadi 2 golongan yaitu Nematodonteae dan Arthrodonteae.
8. Peristoma adalah gigi-gigi atau rambut-rambut yang mengelilingi stoma pada kapsul spora-spora yang dapat mengadakan gerakan higroskopis, yaitu apabila spora-spora sudah masak peristoma bergerak membuka ke arah luar hingga spora dapat keluar.
9. Dalam klasifikasi lumut daun, bentuk kapsul, jumlah gigi peristom, bentuk operkulum maupun kaliptra dapat dijadikan dasar penggolongan yang penting.
10. Protonema sekunder ialah protonema yang tidak berasal dari perkecambahan spora, biasanya berupa benang-benang hijau seperti ganggang. Melalui tunas-tunas yang timbul dari prononema sekunder dapat terbentuk individu yang lebih banyak.
Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)

Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
Ciri-ciri
1. tubuhnya mirip lumut hati, ttpi berbeda pd sporofitnya
2. berdasarkan analisis asam nukleat, ternyata lumut ini berkerabatan plg dekat dgn tumbuhan berpembuluh dibanding dari kelas lain pada tumbuhan lumut
3. gametofitnya berupa talus yg lebar dan tipis dgn tepi yg berlekuk
4. rhizoid berada pada bagian ventral
5. habitatnya didaerah yg mempunyai kelembaban tinggi
cthnya : Anthoceros leavis
Tempat Hidup
Dijumpai ditepi-tepi sungai atau danau dan seringkali disepanjang selokan, dan ditepi jalan yang basah atau lembab.
Susunan tubuh
Tubuh utama berupa gametofit yang mempunyai talus berbentuk cakram dengan tepi bertoreh, biasanya melekat pada tanah dengan perantara-perantara rizoid-rizoid susunan talus masih sederhana, sel-selnya hanya mempunyai suatu kloroplas dengan satu pirunoid besar. Pada sisi bawah talus terdapat stoma dengan dua sel penutup berbentuk ginjal.
Sporofit umumnya berupa kapsul yang berbentuk silender dengan panjang antara 5-6 cm. pangkal sporofitnya dibungkus dengan selubung dari jaringan gametofit.
Alat perkembangbiakan
Secara seksual, dengan membentuk anteridium dan arkhegonium. Anteridium terkumpul pada suatu lekukan sisi atas talus arkegonium juga terkumpul pada suatu lekukan pada sisi atas talus. Zigot mula-mula membelah menjadi dua sel dengan suatu dinding pisah melintang. Sel diatas terus membelah yang merupakan sporogenium diikuti oleh sel bagian bawah yang membelah terus-menerus membentuk kaki ang berfungsi sebagai alat penghisap, bila sporogenium masak makan akana pecah seperti buah plongan s, menghasilakan jaringan yang terdiri dari beberapa deretan sel-sel mandul yang dinamakan kolumila inin diselubungi oleh sel jaringan yang akemudian menghasilkan spora, yang disebut arkespora.
Peran Tumbuhan Lumut Dalam Ekosistem
Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai spons), dan sebagai penyerap polutanLumut ditemukan terutama di area sedikit cahaya / ringan dan lembab. Lumut umum di area berpohon-pohon dan di tepi arus. Lumut juga ditemukan di batu, jalan di kota besar. Beberapa bentuk mempunyai menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi ditemukannya. Beberapa jenis dengan air, seperti Fontinalis antipyretica, dan Sphagnum tinggal / menghuni rawa. Seperti itu, lumut semi-aquatic melebihi cakupan panjangnya normal di lumut terestrial. Di mana saja mereka terjadi, lumut memerlukan kelembaban untuk survive. Oleh karena tipis dan ukuran jaringan yang kecil, ketiadaan kulit jangat (mencakup dari lilin untuk mencegah kekurangan air), dan kebutuhan akan air cairan untuk menyudahi fertilisasi. Beberapa lumut dapat survive dengan kekeringan, kembali hidup di dalam beberapa jam hidrasi.Di garis lintang utara, sisi batu karang dan pohon yang utara akan biasanya mempunyai lebih banyak lumut dibanding seberang. Ini diasumsikan untuk menjadi sisi pohon yang yang sun-facing. Di hutan dalam di mana cahaya matahari tidak menembus, lumut tumbuh subur sama pada saat pada batang pohon.
2.2 Manfaat Bryophyta
Ada suatu market substansiil yang mengumpulkan lumut dari yang liar. Penggunaan lumut tetap utuh terutama di florist trade dan untuk dekorasi rumah. Lumut jenis Sphagnum juga komponen utama bahan bakar, yang mana ditambang untuk penggunaan sebagai bahan bakar, sebagai aditip lahan perkebunan, dan jelai bertunas dikeringkan pada pemroduksian Scotch Whisky.Sphagnum, biasanya jenis cristatum dan subnitens, dipanen selagi masih bertumbuh dan dikeringkan digunakan di kamar anak anak dan hortikultura sebagai medium pertumbuhan. Praktek tanah Pada Perang dunia II, Sphagnum digunakan sebagai PPPK yang dipakaian pada luka prajurit, lumut ini adalah sangat menyerap dan mempunyai kekayaan antibacterial. Beberapa awal orang-orang menggunakannya sebagai diaper dalam kaitan dengan absorbency.Di United Kingdom, Fontinalis antipyretica biasa digunakan untuk memadamkan api seperti ditemukan di sejumlah substansiil di sungai yang slow-moving dan lumut menahan volume air yang besar membantu memadamkan nyala api tersebut. Di Finlandia, Peat mosses sebagai bahan bakar lumut telah digunakan untuk membuat roti selama kelaparan. Di Mexico, lumut digunakan pada Dekorasi Natal
2.3 Penyesuaian Bryophyta Dan Masalah Hidup Di Darat
Bryophyta tidak sesuai sepenuhnya terhadap kehidupan di daratan. Bryophyta bergantung kepada air untuk hidup. Zigot dan embrio dilindungi daripada pengeringan dengan terus menetap di dalam arkegonium. Sperma harus berenang dalam kelembapan luaran untuk sampai ke telur,oleh sebab itu Bryophyta hanya terdapat di tempat yang lembap. Bryophyta tidak mempunyai tisu vaskular , oleh itu struktur jasadnya tumbuh rendah daripada tanah untuk mengatasi masalah pengangkutan air. Genussi gametofit lebih terubahsuai untuk hidup di habitat daratan kerana sporofit bergantung kepada Genussi gametofit untuk mendapatkan bekalan makanan dan perlindungan.
III. PENUTUP
1. Kesimpulan
1. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan kecil yang termasuk division Bryophyta.
2. Mempunyai sel-sel plastida yang mengandung klorofil a dan b.
3. Kebanyakan hidup di darat, dan sel-selnya telah mempunyai dinding yang terdiri dari selulosa.
4. Susunan tubuh sebenarnya merupakan gametofit. Pada bentuk primitif tumbuhan lumut helaian berupa thalus (Marchantia, Riccia, Anthoceros).
5. Ada dua macam perkembang biakan yaitu: reproduksi vegetatif dan reproduksi generatif.
6. Tempat hidup lumut hati pada tempat-tempat yang basah untuk struktur tubuh higmorf dan pada tempat-tempat yang kering untuk struktur tubuh yang xemorf (alat penyimpanan air)
7. Cara hidup lumut hati, sebagai epifit umumnya menempel pada daun-daun pepohonan dalam rimba di daerah tropika.
8. Susunan tubuh lumut hati berdasarkan bentuk talusnya, lumut hati dibagi menjadi dua kelompok yaitu, lumut hati bertalus dan lumut hati berdaun
9. Perkembang biakan lumut hati ada dua yaitu secara aseksual menggunakan spora dan tunas, secara seksual contoh Marchantia, dan anteridium terpancang pada permukaan atas, bentuknya seperti cakram.
10. Pada lumut daun, tempat hidupnya tumbuh di tempat agak terbuka.
11. Susunan tubuh lumut daun melekat pada substrat dengan menggunakan rizoid yang multiseluler bercabang-cabang.\
12. Perkembangbiakan lumut daun ada dua yaitu berumah satu jika dalam kelompok itu terdapat arkegonium maupun anteridium dan berumah dua jika kumpulan arkegonium dan anteridium terpisah.
13. Dijumpai ditepi-tepi sungai atau danau dan seringkali disepanjang selokan, dan ditepi jalan yang basah atau lembab.
14. Tubuh utama berupa gametofit yang mempunyai talus berbentuk cakram dengan tepi bertoreh, biasanya melekat pada tanah dengan perantara-perantara rizoid-rizoid susunan talus masih sederhana, sel-selnya hanya mempunyai suatu kloroplas dengan satu pirunoid besar.
15. Secara seksual, dengan membentuk anteridium dan arkhegonium.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2009. http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Mossopolis.jpg Koloni lumut tebal / padat di hutan yang dingin. Diakses tanggal 13 januari 2009.
Anonymous.2009.http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbuhan_lumut. Diakses Tanggal 13 januari 2009
Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Related Posts


DIVISI CHLOROPHYTA


makalah jamur


Rhodophyta


DIVISI PYRROPHYTA


DIVISI CHRYSOPHYTA

Ditulis Oleh: EKA SAPRI ALVYANTO
metagenesis pada tumbuhan lumut
http://www.google.co.id/imglanding?q=gambar+tumbuhan+lumut&u











BRYOPHYTA / TUMBUHAN LUMUT
Kingdom plantae meliputi organisme multiseluler yang telah terdiferensiasi, eukariotik dan sel
– selnya memiliki dinding sel selulosa. Hampir seluruh anggota plantae sel – selnya mempunyai
klorofil sehingga bersifat autotrof atau dapat menyusun makanan sendiri. Yang termasuk plantae
adalah lumut, tumbuhan paku, dan tumbuhan biji.
Adapun penjelasan dari berbagai kelompok tumbuhan/plantae sebagai berikut :
Termasuk divisi bryophyte, berasal dari bahasa yunani yang berarti “tumbuhan lumut “, pada
umumnya lumut berwarna hijau, karena mempunyai sel – sel dengan plastid yang menghasilkan
klorofil a dan b, dengan demikian lumut bersifat autotrof. Tubuh lumut dapat dibedakan antara sporofit
dan gametofitnya.


Gambar 9. Tumbuhan lumut dengan sporofit muda dan bagian-bagian lumut




1. Ciri – Ciri Tubuh
a. Sel – sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa.
b. Pada semua tumbuhan yang tergolong lumut terdapat persamaan bentuk susunan
gametangiumnya (anteredium maupun arkegonium) terutama susunan arkegoniumnya,
mempunyai susunan yang khas yang sering kita jumpai pada tumbuhan paku (pteridophyta).
c. Batang dan daun pada tumbuhan lumut yang tegak memiliki susunan yang berbeda – beda, jika
batangnya dilihat secara melintang tampak bagian – bagian sebagai berikut:
1. Selapis sel kulit, beberapa sel diantaranya memanjang membentuk rizoid – rizoid epidermis.
2. Lapisan kulit dalam yang tersusun atas beberapa lapisan sel dinamakan korteks.
3. Silinder pusat terdiri dari sel – sel parenkimatik yang memanjang dan berguna untuk
mengangkut air dan garam – garam mineral (makanan).
Jadi pada tumbuhan lumut belum terdapat floem maupun xylem.
d. Daun lumut umumnya setebal satu lapis sel, kecuali ibu tulang daun, lebih dari satu lapis sel. Sel
–se l daun kecil , sempit panjang dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala.
e. Pada tumbuhan lumut hanya terdapat pertumbuhan memanjang dan tidak ada pertumbuhan
membesar.
f. Rizoid tampak seperti rambut / benang – benang , berfungsi sebagai akar untuk melekat pada
tempat tumbuhnya dan menyerap air serta garam –garam mineral (makanan).
g. Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri atas:
1. Vaginula , kaki yang diselubungi sisa dinding arkegonium.
2. Seta atau tangki
3. Apofisis, yaitu ujung seta yang agak melebar yang merupakan peralihan antara seta dan
kotak spora
4. Kaliptra atau tudung berasal dari dinding arkegonium sebelah atas menjadi tudung kotak
spora.
5. Kolumela, jaringan yang tidak ikut mengambil bagian dalam pembentukan spora.

Gambar 10. Struktur sporofit (sporogonium)






2. Reproduksi
Reproduksi lumut bergantian antara seksual dengan aseksualnya, reproduksi aseksualnya
dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit, sedangkan reproduksi seksualnya dengan
membentuk gamet – gamet, baik gamet jantan maupun gamet betina yang dibentuk dalam gametofit.
Ada 2 macam gametangium , yaitu sebagai berikut:
1. Arkegonium adalah gametangium betina yang bentuknya seperti botol dengan bagian lebar
yang disebut perut, bagian yang sempit disebut leher.
2. Anteredium adalah gametangium jantan yang berbentuk bulat seperti gada. Dinding
anteredium terdiri dari selapis sel sel yang mandul dan didalamnya terdapat sejumlah sel
induk spermatozoid.
Reproduksi aseksual dan seksual berlangsung secara bergantian melalui suatu pergiliran keturunan
yang disebut metagenesis.





lumut







Paku…………..


Karakteristik dan Ciri-ciri :
• Fotosintesis, multiseluler dan eukariotik
• Tak memiliki akar, batang dan daun sejati (talus)
• Tak memiliki pembuluh angkut (xilem dan floem)
• Mengalami pergiliran keturunan (dari gametofit – sporofit)
• Reproduksi seksual dan aseksual (spora)
• Pengangkutan Air, melalui peristiwa Osmosis : Pergerakan air dari konsentrasi tinggi ke konsenterasi rendah melewati membran semi permeabel.
• Pengangkutan mineral, melalui difusi : Pergerakan zat terlarut (mineral & ion) dari konsentrasi tinggi ke konsenterasi rendah.
Pergiliran keturunan

Klasifikasi
Terdiri dari 3 klas yaitu :
1. kelas Hepaticopsida (Hepaticae)
2. kelas Anthocerotopsida (Anthocerotae)
3. kelas Bryopsida (Musci)
HEPATICOPSIDA
Hepaticopsida berasal dari kata “ Hepatica” artinya Hati maka dikenal dengan nama lumut hati.
Ciri – ciri Kelompok Hepaticopsida
• Gametofit berwarna hijau, pipih, dorsiventral, struktur talus sederhana atau terdifrensiasi atas batang dan daun-daun, menempel pada tanah dengan menggunakan rizoid
• Sporofit tidak mempunyai sel yang mengandung kloroplas dan didalamnya tidak ada kolumella
• Spora yang berkecambah tidak melalui pembentukan protonema
Perkembangbiakan aseksual
• fragmentasi
• pembentukan kuncup (Gemma) contoh pada Marchantia, Lunularia dan Blasia
• Pembentukan tunas cabang contoh Riccia fluitan, Targionia dan Reboulia
• Pembentukan umbi (tuber) contohnya Petalophyllum, Anthoceros
• Penebalan ujung talus contohnya Anthalamia,
KLASIFIKASI
Ordo Marchantiales
Ciri –ciri :
• Gametofit berupa talus sederhana
• Struktur anatomi talus memperlihatkan difrensiasi jaringan, ada ruang uadara dan poros
• Gametangium letaknya tenggelam didalam talus, arkegonium mempunyai 6 sel saluran leher
• Sporofit terdiri dari kapsul saja atau terdiri dari kaki, seta dan kapsul
Ordo Marchantiales terdiri 6 famili yaitu
• Famili Ricciaceae contohnya Riccia fluitan
• Famili Corsiania contohnya Corsinia
• Famili Targoniaceae contohnya Targonia
• Famili Marchantiaceae contohnya Marchantia
• Famili Monocleaceae contohnya Monoclea
• Famili Monocarpaceae contohnya Monocarpa
Ordo Spaerocarpales
Ciri-ciri :
• Gametofit berupa talus sederhana
• Struktur anatomi talus tidak memperlihatkan difrensiasi jaringan, tidak ada ruang udara dan poros
• Gametangium diselubungi involukrum, arkegonium mempunyai 6 sel saluran leher
• Sporofit terdiri dari kaki, seta dan kapsul
Contohnya Spaerocarpa
Ordo Jungermanniales
Ciri-ciri :
• Gametofit berupa talus sederhana
• Arkegonium diselubungi involukrum dan mempunyai 5 sel saluran leher
• Sporofit terdiri dari kapsul saja atau terdiri dari kaki, seta dan kapsul
Subordo Metzgerineae atau Anacrogynae
Memuat golongan yang masih berupa talus sederhana, bentuknya seperti pita dan dorsiventral. Sporofit terletak disisi dorsal dan diliputi involukrum
• Terdiri 7 famili yaitu :
• Famili Riccardiaceae contohnya Riccardia
• Famili Pelliaceae contohnya Pellia
• Famili Treubiaceae contohnya Treubia
• Famili Fossombroniaceae contohnya Fossombronia
• Famili Pallaviciniaceae contohnya Pallavicinia
• Famili Blasiaceae contohnya Blasias
• Famili Metzgeriaceae contohnya Metzgeria
Subordo Jungermannineae atau Accrogynae
Memuat golongan yang talusnya menyerupai batang dengan daun-daun menyerupai batang dengan daun tersusun dalam 3 deretan yaitu 2 deretan daun samping (daun lateral) dan satu deretan daun ventral (amfigastrum). Daun samping tersebut terbagi atas lobus dorsal dan lobus ventral. Daun yang melindungi aarkegonium disebut periketium atau periantium, sedang daun yang melindungi anteridium disebut Perigonium. Contoh. Jungermannia, Madontheca
Ordo Calobryales
Cirri-ciri
• Gametangium tidak mempunyai batang dengan daun-daun yang tersusun dalam 3 baris
• Gametangium terbenuk diujung batan, arkegonium mempunyai 4 sel saluran leher
• Sporofit terdiri dari kapsul saja
Contohnya Calobryum, Haplomitrium
Kelas Antheroceropsida / Lumut Tanduk
Ciri – Ciri :
• Gametofit berbentuk lembaran
• Sporofit berbentuk pipa memanjang ke atas, seperti tanduk
• Di dalam “tanduk” dihasilkan spora
• Struktur anatomi talus homogen, tiap sel mengandng satu kloroplas dengan satu pirenoid yang besar
• sporogonium terdiri atas kaki dan kapsul saja,
• Spora berkecambah tidak membentuk protonema,
• Perkembangbiakan aseksual sama dengan lumut hati
Terdiri 1 ordo yaitu Ordo Anthocerotales. Contohnya : Anthoceros, Phaeceros, Megaceros dan Denroceros
Kelas Bryopsida
Merupakan kelas yang paling besar dan paling tinggi tingkatan perkembangannya diantara ketiga kelas briopyta. Dikenal dengan lumut daun
• Ada yang homotalik dan ada yang heterotalik
• Pada yang homotalik dapat dibedakan atas
a. Paroisis : apabila anteridia dan arkegonia terletak pada cabang yang sama tetapi dalam kelompk yang berbeda
b. Autosisi : Apabila anteridia dan arkegonia terletak pada cabang yang berbeda
c. Sinoisis : apabila anteridia dan arkegonia terletak pada kelompok dan cabang yang sama
Terdiri atas 3 subklas Yaitu :
• Subclas Spagnobrya=Sphagnidae
Merupakan subclass yang paling primitive dalam klas Bryopsida
Ciri-ciri :
• Protonema berbentuk daun kecil, tiap protonema hanya akan membentuk satu gametopora
• Gametofora terdiri dari batang-batang yang bercabang dengan daun-daun dan gameetofora tidak mempunyai rizoid
• sporangium mempunyai kaki yang lebar, seta hanya berupa lekukan antara kaki dari kapsul. Tidak terdapat peristom pada kapsul
• Hanya terdiri 1 Ordo Yaitu Spagnales, 1 Famili yaitu Spagnaceae dan 1 genus yaitu Spagnum (ada 336 species)
• Subclas Andreaobrya=Andreaeaidea
Cirri –ciri :
• Protonema berbentuk seperti batang atau pita yang bercabang
• daun-daun tersusun spiral rapat dan menutupi batang
• Gametangium terdapat pada ujung cabang tetapi anteridium dan arkegonium terdapat pada cabang yang berbeda
• sporangium terdiri dari kaki adan kapsul
• hanya terdiri dari 1 ordo saja yaitu ordo Andreaeales dan 1 famili yaitu famili Andreaeaceae dengna 2 genus yaitu Andreaea dan Neuroloma
• Subclas Eubrya = Bryidea
Merupakan subclass terbesar dari lumut daun dan sering dinamakan lumut sejati
Ciri-ciri :
• Protonema hampir selalu berbentuk benang yang bercabang berwarna hijau. Protonema mengeluarkan rizoid yang tidak berwarna
• Gametofora selalu dengan jelas dapat dibedakan antara batang dengan daun-daun
• Sporagium terdiri dari kapsul, kaki dan seta
Berdasarkan cara pertumbuhannya Bryidea dibedakan atas 2 type yaitu
• Yang tumbuh tegak (Ortotrop) =- acrocarpi
• Yang tumbuh mendatar (Plagiatrop)=Pleurocarpi
Penggolongan berdasarkan ada tidak gigi peristome
• Clestocarpi (kapsul spora tidak punya peristom)
• Stegocarpi (kapsu spora punya gigi peristom
No Comments
Read More
LICHENES
Filed under Uncategorized by gugukz.dreamz on 14-06-2009
• Lichenes (lumut kerak) merupakan gabungan antara fungi dan alga sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan.
• Tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah.
• Tumbuhan ini bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu.
• Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama.
• Lichen dapat bertahan hidup dalam kondisi yang ekstrim panas, dingin,lembab maupun kering sehingga kehadirannya tersebar luas dari daerah tropis sampai antartika
• Tidak dapat tumbuh subur di daerahindustri perkotaan karena sensitif terhadap pencemaran udara terutama dari unsur Fluor (F) dan Sulfur Oksida (SO2). Dengan sifatnya yang demikian lichen dapat dipakai sebagai bioindikator terhadap pencemaran udara
• Pemanfaatan dalam kehidupan manusia : makanan manusia (Indian, Nepal, India), obat, warna kain, indikator lakmus, kosmetik, parfum, lotion dan racun hewan.
MORFOLOGI SIMBIOTIK


MORFOLOGI THALUS
a. CRUSTOSE
Bentuk thalus angrata menyerupai kerak (crust). Lichen Crustose yang tumbuh terbenam di dalam batu hanya bagian tubuh buahnya yang berada di permukaan disebut endolitik, dan yang tumbuh terbenam pada jaringan tumbuhan disebut endoploidik atau endoploidal. Lichen yang longgar dan bertepung yang tidak memiliki struktur berlapis, disebut leprose.
Contoh; Diploschistes sp, Graphis scipta, Haematomma puniceum, Acarospora atau Pleopsidium
b. FOLIOSE
a. Lichen foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobus-lobus.Lichen ini relatif lebih longgar melekat pada substratnya.
b. Thallusnya datar, lebar, banyak lekukan seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian permukaan atas dan bawah berbeda.
c. Lichenes ini melekat pada batu, ranting dengan rhizines. Rhizines ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan.
d. Contoh : Xantoria, Physcia, Peltigera, Parmelia dll.
c. SQUAMULOSE
Lichen ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut squamulus yang biasanya berukuran kecil dan saling bertindih dansering memiliki struktur tubuh buah yang disebut podetia.
Contoh: Psora pseudorusselli, Cladonia carneola
d. FRUTICOSE
Thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk seperti pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu,daun-daunan atau cabang pohon. Tidak Terdapat perbedaan antara permukaan atas dan bawah.
Contoh : Usnea, Ramalina dan Cladonia
Soredia. Terdapat pada bagian medulla yang keluar melalui celah kulit. Diameternya sekitar 25 – 100 mμ , sehingga soredia dapat dengan mudah diterbangkan angin dan akan tumbuh pada kondisi yang sesuai menjadi tumbuhan licenes yang baru. Jadi pembiakan berlangsung dengan perantaraan soredia. Soredia itu sendiri merupakan kelompok kecil sel-sel gangang yang sedang membelah dan diselubungi benang-benang miselium menjadi satu badan yang dapat terlepas dari induknya. Soredia ini terdapat di dalam soralum.
Isidia. berbentuk silinder, bercabang seperti jari tangan dan terdapat pada kulit luar. Diamaternya 0,01 – 0,03 mμ dan tingginya antara 0,5 – 3 mμ. Berdasarkan kemampuannya bergabung dengan thallus, maka dalam media perkembangbiakan, isidia akan menambah luas permukaan luarnya. Sebanyak 25 – 30 % dari spesies foliose dan fructicose mempunyai isidia. Proses pembentukan isidia belum diketahui, tetapi dianggap sebagai faktor genetika.
Lobula. merupakan pertumbuhan lanjutan dari tahllus lichenes yang sering dihasilkan di sepanjang batas sisi kulit luar. Lobula ini dapat berkembang dengan baik pada jenis foliose, Genus Anaptycia, Neproma, Parmelia dan Peltigera. Lobula sangat sukar dibedakan dengan isidia.
Rhizines. merupakan untaian yang menyatu dari hifa yang berwarna kehitam-hitaman yang muncul dari kulit bagian bawah (korteks bawah) dangan mengikat thallus ke bagian dalam. Ada dua jenis rhizines yaitu bercabang seperti pada Ctraria, Physcia dan Parmelia dan yang tidak bercabang terdapat pada Anaptycis dan beberapa Parmelia.
Tomentum. memiliki kepadatan yang kurang dari rhizines dan merupakan lembaran serat dari rangkaian akar atau untaian yang renggang. Biasanya muncul pada lapisan bawah seperti pada Collemataceae, Peltigeraceae dan Stictaceae.
Cilia. berbentuk seperti rambut, menyerupai untaian karbon dari hifa yang muncul di sepanjang sisi kulit. Cilia berhubungan dengan rhizines dan hanya berbeda pada cara tumbuh saja.
Cyphellae. berbentuk rongga bulat yang agak besar serta terdapat pada korteks bawah dan hanya dijumpai pada genus Sticta. Pseudocyphellae
Pseudocyphellae. Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari cyphellae yaitu sekitar 1 mμ dan terdapat pada korteks bawah spesies Cetraria, Cetralia, Parmelia dan Pasudocyphellaria. Rongga ini berfungsi sebagai alat pernafasan atau pertukaran udara.
Cephalodia. merupakan pertumbuhan lanjutan dari thallus yang terdiri dari alga-alga yang berbeda dari inangnya. Pada jenis peltigera aphthosa, cephalodia mulai muncul ketika Nostoc jatuh pada permukaan thallus dan terjaring oleh hifa cephalodia yang berisikan Nostoc biru kehijauan. Jenis ini mampu menyediakan nitrogen thallus seperti Peltigera, Lecanora, Stereocaulon, Lecidea dan beberapa jenis crustose lain.
PERKEMBANGBIAKAN LICHENES
Secara Vegetatif
1. Fragmentasi
Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan fragmen. Pada beberapa fruticose lichenes, bagian tubuh yang lepas tadi, dibawa oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes yang baru. Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang paling produktif untuk peningkatan jumlah individu.
2. Isidia
Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika kondisinya sesuai.
3. Soredia
Reproduksi aseksual
• Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya.
• Spora yang aseksual disebut pycnidiospores. Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia.
• Pygnidia ditemukan pada permukaan atas dari thallus yang mempunyai suatu celah kecil yang terbuka yang disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana jamur pygnidiospore berada pada ujungnya. Tiap pycnidiospore menghasilkan satu hifa jamur. Jika bertemu dengan alga yang sesuai terjadi perkembangan menjadi lichenes yang baru.
Secara Seksual
Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes.
KLASIFIKASI LICHENES
Berdasarkan cendawan yang menyusunnya
A. Ascolichens.
• Cendawan penyusunnya tergolong Pyrenomycetales, maka tubuh buah yang dihasilkan berupa peritesium. Contoh : Dermatocarpon dan Verrucaria.
• Cendawan penyusunnya tergolong Discomycetes. Lichenes membentuk tubuh buah berupa apothecium yang berumur panjang. Contoh : Usnea dan Parmelia.
• Dalam Klas Ascolichens ini dibangun juga oleh komponen alga dari famili: Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin. Genus dari Mycophyceae adalah : Scytonema, Nostoc, Rivularia, Gleocapsa dan lain-lain. Dari Cholophyceae adalah : Protococcus, Trentopohlia, Cladophora dll.
Klas : Ascolichens
• Ordo : Lecanorales
• Famili : Lichinaceae, Collemataceae, Heppiaceae, Pannariaceae, Coccocarpiaceae, Perltigeraceae, Stictaceae, Graphidaceae, Thelotremataceae, Asterothyriaceae, Gyalectaceae, Lecidaeceae, Stereocaulaceae, Cladoniaceae, Umbilicariaceae, Lecanoraceae, Parmeliaceae, Usneaceae, Physciaceae, Theloshistaceae.
• Ordo : Sphariales
• Famili : Pyrenulaceae, Strigulaceae, Verrucariaceae
• Ordo : Caliciales
• Famili : Caliciaceae, Cypheliaceae, Sphaephoraceae
• Ordo : Myrangiales
• Famili : Arthoniaceae, Myrangiaceae
• Ordo : Pleosporales
• Famili : Arthopyreniaceae
• Ordo : Hysteriales
• Famili : Lecanactidaceae, Opegraphaceae, Rocellaceae
B. Basidiolichenes
Berasal dari jamur Basidiomycetes dan alga Mycophyceae. Basidiomycetes yaitu dari famili : Thelephoraceae, dengan tiga genus Cora, Corella dan Dyctionema. Mycophyceae berupa filamen yaitu : Scytonema dan tidak berbentuk filamen yaitu Chrococcus.
• Famili : Herpothallaceae, Coraceae, Dictyonamataceae, Thelolomataceae.
C. Lichen Imperfect
Deutromycetes fungi, steril. Contoh : Cystocoleus, Lepraria, Leprocanlon, Normandia, dll.
• Genus : Cystocoleus, Lepraria, Lichenothrix, Racodium.
Berdasarkan alga yang menyusun thalus
A. Homoimerus
Sel alga dan hifa jamur tersebar merat pada thallus. Komponen alga mendominasi dengan bentuk seperti gelatin, termasuk dalam Mycophyceae. Contoh : Ephebe, Collema
B. Heteromerous
Sel alga terbentuk terbatas pada bagian atas thallus dan komponen jamur menyebabkan terbentuknya thallus, alga tidak berupa gelatin Chlorophyceae. Contoh : Parmelia
No Comments
Read More
PTERYDOPHYTA
Filed under Uncategorized by gugukz.dreamz on 14-06-2009
Ciri-Ciri Pteridophyta
a. Memiliki jaringan pengangkut (xilem dan floem)
b. Secara umum telah dapat dibedakan akar, batang dan daunnya.
c. Alat reproduksi aseksual berupa spora


d. Spora dihasilkan oleh sporofil (daun fertil)
e. Mengalami metagenesis (Fase sporofit lebih dominan dari fase gametofit)
Reproduksi dan Metagenesis Pteridophyta

Skema Siklus Hidup Pteridophyta

Klasifikasi
1. Pteridopsida
Ciri-Ciri Pteridopsida
a. Telah dapat dibedakan akar, batang dan daunnya
b. Spora dihasilkan pada sporofil, terutama di bawah daunnya
c. Daun mudanya tumbuh menggulung (circinatus)
d. Contoh : Pteris, Adiantum cuneatum, Semanggi (Marsilea sp) dll
2. Lycopsida
Ciri-Ciri Lycopsida
a. Memiliki daun yang berukuran kecil (mikrofil)
b. Spora dihasilkan oleh strobilus (kumpulan sporofil yang berbentuk kerucut)
c. Pada selaginella, jenis spora yang dihasilkan ada 2 macam, yaitu mikrospora dan megaspora
d. Mikrospora akan berkembang menjadi gametofit jantan, sedang megaspora akan berkembang menjadi gametofit betina
3. Sphenopsida
Ciri-Ciri Sphenopsida / Paku Ekor Kuda
a. Hidup di daerah sub tropis, terutama di rawa
b. Memiliki daun mikrofil
c. Spora dihasilkan oleh strobilus
d. Batang keras dan berongga, mengandung silika
e. Contoh : Equisetum palustre
4. Psilopsida / Paku Purba
Ciri-Ciri Psilopsida / Paku Purba
a. Daun mikrofil
b. Batang bercabang dikotom, dan berfungsi dalam fotosintesis
c. Pada ruas-ruas batang dihasilkan sporangium
d. Spora dihasilkan oleh sporangium
e. Contoh : Psilotum nudum





asteroxylon



licopodium























equisetum
Di bawah ini adalah ilustrasi dari keterangan di atas berupa gambar skematik dari irisan melintang batang Equisetum hyemale


















STRUKTUR UMUM DAUN












Bunga
Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, gelintar


Bunga raya


Rudbeckia fulgida
Bunga ialah struktur pembiakan untuk tumbuhan berbunga, iaitu tumbuhan-tumbuhan dalam divisi Magnoliophyta.
Bunga mengandungi organ-organ tumbuhan, dan fungsinya ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi yang berikut, dan bertindak sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu sesuatu spesies secara luas. Selepas persenyawaan, sebahagian daripada bunga itu akan berkembang menjadi buah yang mengandungi biji-biji.

Isi kandungan
[sorok]
• 1 Anatomi bunga
o 1.1 Penyimpangan daripada pelan struktur yang tipikal
o 1.2 Rumus bunga
• 2 Fungsi bunga
• 3 Bunga untuk berkebun dan hortikultur
• 4 Bunga dalam kehidupan harian
• 5 Bunga sebagai lambang
• 6 Galeri
• 7 Rujukan
• 8 Pautan luar

[sunting] Anatomi bunga
Organ-organ yang berlainan dalam tumbuhan berbunga menghasilkan dua jenis spora pembiakan, iaitu debunga (spora jantan) dan ovul (spora betina). Bagaimanapun, kedua-dua jenis spora ini berada bersama-sama dalam strobilus (iaitu sekumpulan sporofil yang kelihatan seakan-akan kon) bisporangiat (terdiri daripada mikrosporofil dan megasporofil) yang merupakan bunga yang tipikal.
Bunga dianggap sebagai tangkai terubah suai (Eames, 1961). Buku-buku pada ruas yang pendek menghasilkan struktur-struktur yang dapat diubah suai untuk menjadi daun. Pada dasarnya, sebuah struktur bunga terbentuk pada tunas terubah suai atau paksi yang mempunyai meristem apeks yang tidak bertumbuh secara berterusan. Tangkai digelarkan pedikel, dan hujungnya mempunyai torus atau pudung. Bahagian-bahagian bunga diatur dalam bentuk sepusar di sekeliling torus. Terdapat empat bahagian atau sepusar yang utama (bermula daripada bawah bungga atau buku terendah naik ke atas) seperti berikut:
• kaliks – merupakan sepusar sepal yang luar; biasanya, ini berwarna hijau, tetapi kelihatan seolah-olah kelopak dalam sebilangan spesies;
• korola – merupakan sepusar kelopak; biasanya nipis, lembut dan berwarna-warni untuk menarik serangga supaya dapat membantu proses pendebungan.
• androesium (daripada bahasa Greek andros oikia: rumah lelaki) – terdiri daripada satu atau dua sepusar stamen, dengan setiap stamen merupakan sebatang filamen yang mempunyai anter pada hujungnya untuk menghasilkan debunga. Debunga mengandungi gamet jantan.
• ginesium (daripada bahasa Greek gynaikos oikia: rumah perempuan) – terdiri daripada satu atau lebih pistil. Karpel ialah organ pembiakan betina yang mengandungi ovari serta ovul-ovul yang mengandungi gamet betina. Sebatang pistil mungkin terdiri daripada satu karpel yang tunggal atau sebilangan karpel yang digabungkan bersama-sama untuk menjadikan satu pistil bagi setiap bunga (bunga yang sebegini digelarkan apokarpa). Stigma, iaitu bahagian hujung pistil yang lekit, ialah penerima debunga. Stil, iaitu tangkai yang menyangga stigma, menjadi laluan untuk penumbuhan tiub debunga dari butir-butir debunga yang terlekat pada stigma ke ovul, dan membawa bahan-bahan pembiakan.



Tulip - androesium dan ginesium
[sunting] Penyimpangan daripada pelan struktur yang tipikal
Walaupun struktur bunga yang dihujahkan diatas dianggap sebagai pelan struktur yang "tipikal", spesies-spesies tumbuhan menunjukkan kepelbagaiaan pengubahsuaian yang luas daripada pelan ini. Pengubahsuaian-pengubahsuaian ini adalah penting dalam evolusi tumbuhan berbunga dan digunakan oleh ahli-ahli botani untuk mengasaskan hubungan antara spesies-spesies tumbuhan. Umpamanya, kedua-dua subkelas tumbuhan berbunga dapat dibezakan melalui bilangan organ bunga dalam setiap sepusar: dikotiledon biasanya mempunyai 4 atau 5 organ (atau angka kandungan 4 atau 5) dalam setiap sepusar, dan monokotiledon mempunyai tiga atau angka kandungan tiga. Sebatang pistil majmuk mungkin mempunyai hanya dua karpel, ataupun langsung tidak mempunyai kaitan dengan generalisasi monokot dan dikot yang dihuraikan di atas.
Dalam kebanyakan spesies, bunga-bunganya mempunyai kedua-dua pistil dan stamen seperti yang diperihalkan di atas. Bunga-bunga ini ditakrif oleh ahli-ahli botani sebagai sempurna, dwiseksual, atau hermafrodit. Bagaimanapun, dalam sebilangan spesies tumbuhan, bunganya tidak sempurna atau uniseks, iaitu mempunyai hanya bahagian jantan (stamen) atau betina (pistil). Dalam kes tersebut di mana sebuah tumbuhan adalah jantan atau betina, spesies itu dianggap sebagai tumbuhan diesisme. Bagaimanapun, jika bunga jantan dan bunga betina bertumbuh dalam tumbuhan yang sama, spesies itu dianggap sebagai tumbuhan monesisme.


Tangkap padat untuk bunga Day lily yang menunjukkan enam stamen bersama-sama dengan stigma dan stil pistil
Sebilangan bunga mempunyai kedua-dua stamen dan pistil yang berupaya untuk penswasenyawaan. Sifat ini meningkatkan kemungkinan untuk menghasilkan biji tetapi mengehadkan kelainan genetik. Kes penswasenyawaan yang keterlaluan terjadi dalam bunga-bunga yang selalu mensenyawakan sendiri, seperti bunga dandelion. Sebaliknya, banyak spesies tumbuhan mempunyai jara untuk menghalangkan penswasenyawaan. Bunga jantan dan bunga betina dalam tumbuhan yang sama tidak akan muncul pada masa yang sama, atau debunga daripada pokok yang sama tidak berupaya mempersenyawakan ovul-ovulnya. Jenis bunga-bunga terakhir ini yang mempunyai penyekat kimia untuk debunga sendiri dirujuk sebagai "mandul sendiri" atau "tak serasi sendiri" (sila lihat: Keseksualan tumbuhan).
Perbincangan tambahan tentang pengubahsuaian bunga daripada pelan asas diberikan dalam rencana-rencana bagi setiap bahagian asas bunga. Bagi spesies-spesies yang mempunyai lebih daripada satu bunga pada paksinya, koleksi bunga itu diistilahkan sebagai infloresen. Dari segi ini, perhatian mesti diambil untuk mempertimbangkan apakah itu "bunga". Umpamanya dalam istilah botani, sekuntum bunga daisi atau bunga matahari yang tunggal tidak dianggap sebagai sekuntum bunga, tetapi sebaliknya, sebagai kepala bunga — satu infloresen terdiri daripada banyak bunga yang kecil (kekadang digelarkan "floret"). Anatomi untuk setiap bunga kecil itu mungkin mengambil bentuk yang dihuraikan di atas.

[sunting] Rumus bunga
Rumus bunga ialah cara untuk melambangkan struktur bunga melalui huruf, angka dan simbol yang khusus. Biasanya, rumus am digunakan untuk mewakili struktur bunga untuk sesuatu famili tumbuhan, dan bukannya untuk sesuatu spesies yang khusus. Perlambangan yang berikut telah digunakan:
Ca = kaliks (sepusar sepal; umpamanya Ca5 = 5 sepal)
Co = korola (sepusar kelopak; umpamanya Co3(x) = bilangan kelopak dalam angka kandungan tiga)
Z = ditambahkan untuk bunga zigomorfi (umpamanya CoZ6 = zigomorfi dengan 6 kelopak)
A = androesium (sepusar stamen; umpamanya A∞ = banyak stamen)
G = ginesium (karpel, umpamanya G1 = bermonokarpel)
x - untuk mewakili "nombor boleh ubah"
∞ - untuk mewakili "banyak"
Rumus bunga akan kelihatan seperti berikut:
Ca5Co5A10 - ∞G1
Banyak lagi simbol yang lain digunakan (sila lihat [1]).
[sunting] Fungsi bunga


Butir-butir debunga pada stigma bunga lili
Fungsi bunga ialah untuk menjadi pengantara bagi penyatuan gamet jantan dan gamet betina. Proses ini diistilahkan sebagai pendebungaan. Banyak bunga bergantung kepada angin untuk menggerakkan debunga antara bunga-bunga spesies yang sama. Ada juga yang bergantung kepada haiwan, khususnya serangga untuk berbuat demikian. Tempoh masa yang mana proses ini dapat dilakukan (iaitu bunga telah menjadi matang dan berfungsi) digelarkan antesis.
Banyak bunga dalam [alam semula jadi]] telah dievolusikan untuk menarik haiwan-haiwan untuk mendebungakan bunga. Pergerakan-pergerakan agen pendebungaan memberikan peluang untuk penggabungan semula genetik dalam populasi tumbuhan yang tersebar. Bunga yang didebungakan oleh serangga dinamakan bunga berentomofili (secara harfiah, "cinta akan serangga").
Bunga-bunga biasanya mempunyai kelenjar yang digelarkan nektarin pada berbagai-bagai bahagiannya untuk menarik haiwan-haiwan. Burung dan lebah merupakan pendebunga yang biasa: kedua-dua haiwan ini mempunyai penglihatan warna dan memilih bunga yang berwarna-warni. Sebilangan bunga mempunyai corak-corak yang dinamakan panduan madu bunga yang menunjukkan tempat madu bunga kepada pendebunga-pendebunga; corak-corak hanya dapat dilihat oleh kita di bawah cahaya ultraunggu, tetapi corak-corak itu boleh dinampak oleh lebah-lebah dan sebilangan serangga yang lain.
Bunga-bunga juga menarik pendebunga-pendebunga melalui bau. Banyak bau adalah harum bagi kita, tetapi bukan kesemuanya. Sebilangan tumbuhan, seperti Rafflesia, titan arum, dan pawpaw Amerika Utara (Asimina triloba) didebungakan oleh lalat dan oleh itu, menghasilkan bau daging basi. Bagaimanapun, pendebunga-pendebunga tertarik kepada tumbuhan, mungkin disebabkan hendak mencari madu bunga untuk makan. Penyusunan stamen memastikan bahawa butir-butir debunga dipindahkan kepada tubuh-tubuh pendebunga. Dalam pengumpulan madu bunga daripada banyak bunga dalam spesies yang sama, pendebunga memindahkan butir-butir debunga yang terlekat pada tubuhnya antara semua bunga yang dilawati.
Bunga-bunga untuk spesies yang lain diperdebungakan oleh angin (umpamanya rumput-rumput); oleh sebab bunga-bunga ini tidak perlu menarik pendebunga, bunganya tidak begitu menonjol. Bunga-bunga yang didebungakan oleh angin dirujuk sebagai bunga beranemofi. Sedangkan butir-butir bunga berentomofili cenderung bersifat besar, melekat, serta kaya dengan protein (lagi satu "faedah" untuk pendebunga), butir-butir debunga untuk bunga beranemofili biasanya kecil, amat ringan, dan tidak mempunyai banyak nilai pemakanan kepada serangga walaupun ia masih dikumpulkan semasa kekurangan makanan. Lebah madu dan kumbang bumbel berkumpul debunga jagung secara aktif, walaupun debunga ini tidak berguna kepada serangga-serangga itu.
Terdapat banyak kekeliruan tentang peranan bunga dalam alergi. Umpamanya, pokok Solidago (bahasa Inggeris: goldenrod) yang bersifat entomofili sering disalahkan untuk rinitis alergi, walaupun debunganya bukan debunga bawaan udara. Sebaliknya, alergen untuk penyakit itu biasanya ialah debunga Ambrosia (bahasa Inggeris: ragweed) yang bersifat anemofili dan dapat melayang-layang sehingga beberapa kilometer.
[sunting] Bunga untuk berkebun dan hortikultur
Rencana utama dan rencana berkait: Perkebunan, Hortikultur, Senarai bunga, dan Bidang Penggubahan Bunga
[sunting] Bunga dalam kehidupan harian
Pada masa yang moden ini, orang-orang telah menanam, membeli, memakai ataupun hanya mendekati bunga-bunga dan pokok-pokok yang sedang berbunga, sebahagiannya kerana bau bunga yang harum. Di seluruh dunia, penjual-penjual bunga menjual bunga untuk pelbagai kejadian dan majlis:


"Stargazer", satu kacukan Lilium, amat wangi.
• Untuk kelahiran atau pembaptisan
• Sebagai korsaj atau bunga hiasan yang dipakai untuk majlis sosial atau untuk percutian
• Sebagai bunga perkahwinan untuk majlis perkahwinan dan perhiasan dewan
• Sebagai perhiasan untuk menerangi rumah
• Sebagai hadiah pengingatan untuk majlis selamat jalan, parti selamat pulang, dan hadiah "rindu akan anda"
• Sebagai bunga upacara pengebumian dan penyataan rasa simpati terhadap orang yang sedang berdukacita.
Penjual-penjual bergantung kepada serangkaian penanam komersil dan pengangkut untuk mendukung perdagangan ini. Untuk memperoleh bunga-bunga di luar musim negara sendiri, penjual bunga menghubungi pemborong dan pengimport yang mempunyai perhubungan langsung dengan penanam-penanam di negara lain untuk membekalkan bunga-bunga tersebut.
[sunting] Bunga sebagai lambang




1. Alat-alat yang sering digunakan di Laboratorium unit Biologi


No Nama Alat Kegunaan Keamanan/Pengamanan
1 Mikroskop cahaya Untuk mengamati benda-benda yang mikroskopik, kecil dan transparan atau tembus pandang Alat digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan alat/disimpan di dalam lemari yang bersih bebas dari debu dan cahaya matahri langsung
2 Microscope slide (kaca objek) Untuk meletakkan objek yang diamati Tidak diletakkan disembarang tempat, hindarkan dari benturan karena mudah pecah/setelah digunakan dibersihkan dan disimpang dalam suatu wadah tersendiri
3 Cover slip (kaca penutup) Untuk menutup benda yang diletakkan pada kaca objek Tidak diletakkan disembarang tempat, hindarkan dari benturan karena mudah pecah/setelah digunakan dibersihkan dan disimpang dalam suatu wadah tersendiri
4 Loupe (kaca pembesar) Untuk mengamati objek yang kecil, seperti benang sari, ruas kaki serangga dan sebagainya Digunakan sesuai dengan petunjuk pemakaian, tidak diletakkan ditempat yang panas, hindarkan dari benturan karena dapat retak/setelah digunakan disimpan kembali pada kotak atau dos loupe kembali
5 Perangkat alat bedah Untuk kegiatan pembedahan seperti membedah ikan, katak, marmot dsb Digunakan sesuai petunjuk penggunaan/setelah digunakan dibersihkan dan disimpan ditempat yang aman
6 Spatula Untuk mengambil objek yang telah diiris untuk sediaan mikroskop Digunakan sesuai petunjuk penggunaan/setelah digunakan dibersihkan
7 Panic bedah Untuk tempat pembedahan setelah diisi lilin, atau telenan bedah dari gabus Digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan/setelah digunakan dibersihkan
8 Mano respirometer Untuk menentukan secara kuantitatif banyaknya CO2 yang dihasilkanpada proses pernapasan ragi.juga untuk menyelidiki penggunaan O2 oleh organism hidup pada pernapasan Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan di dalam lemari
9 Quadrat (kuadrat) Untuk mengambil cuplikan areal dengan luas tertentu dari suatu ekosistem Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam lemari
10 Dip-net (jala keruk) Untuk mengambil atau mengumpulkan specimen hewan da tumbuhan air yang terdapat di dasar kolam, selokan atau perairan lain yang dangkal Digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan/disimpan ditempat yang aman (di dalam lab.)
10 Jala serangga Untuk menangkap serangga Digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan/disimpan ditempat yang aman (di dalam lab.)
11 Jala plankton Untuk mengumpulkan plankton di kolam, danau, akuarium dsb. Digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan/disimpan ditempat yang aman (di dalam lab.)
12 Specimen tube (tabung contoh) Untuk meyimpan sementara specimen hewan-hewan kecil yang baru dikumpulkan Digunakan sesuia petunjuk penggunaan alat, hindarkan dari bentuaran karena mudah retak/setelah digunakan dibersihkan dan disimpan dalam lemari
13 Human torso, female (torso manusia, wanita) Untuk mempelajari morfologi dan anatomi tubuh manusia Diletakkan ditempat yang tinggi (di atas meja atau lemari)
14 Thermometer badan Untuk mengukur suhu badan misalnya suhu waktu sehat, waktu sakit atau waktu istrahat Digunakan sesuai petunjuk penggunaan, hindarkan dari benturan kaena mudah retak/disimpan di dalam kotak atau dos alat tersebut
15 Genetic box (kotak genetic) Untuk menyelidiki kemungkinan kombinasi gen serta prinsip-prinsip genetika lainnya Digunakan sesuai petunjuk penggunaan alat, tidak disimpan pada tempat yang basah/disimpan dalam lemari
16 Respirometer simple mounted (respirometer sederhana) Untuk mengukur banyaknya oksigen yang diambil atau digunakan dalam satuan waktu tertentu pada pernapasan hewan kecil misalnya serangga Digunakan sesuai petunjuk penggunaan alat/disimpan di dalam lemari
17 Insektarium Untuk menyelidiki tingkah laku/kehidupan serangga, misalnya cara makan, membuat rumah atau kepompong Hindarkan dari panas matahari dan air/disimpan dalam ruangan

18 Incubator (alat penetas telur) Untuk mengingkubasi telur, mikroba, dan lainnya yang membutuhkan pengaturan suhu dan kelembapan udara Digunakan sesuai petunjuk penggunaan alat, hindarkan dari benturan/disimpan di dalam lemari
20 Okto klat Untuk sterilisasi dan penggunaan uap panas bertekanan Digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan alat/disimpan dalam lemari

Sumber informasi: Garuda, S.Pd dan Hasran Abidin, S.Pd

2. Bahan-bahan kimia yang sering digunakan di Laboratorium Unit Biologi

No Nama Bahan Kegunaan/karakteristik Keamanan/Pengamanan
1 Acetid acid Zat cair, jika kena kulit dapat menyebabkan luka bakar, sebagai uap dapat mengganggu pernapasan, kulit dan mata. Dalam laboratorium biasa digunakan sebagai asam lemah. Digunakan sesuai aturan pakai, hindarkan dari sumber api dan praktikan harus memakai masker saat menggunakan bahan kimia tersebut/disimpan dalam botol.
2 Aluminium sulphate Kristal, garam berwarna putih, larut dalam air. Digunakan sebagai pengganti tawas. Digunakan sesuai aturan pakai, hindarkan dari sumber api/disimpan dalam botol.
3 Ammonia chloride Kristalnya berwarna putih, mudah larut dalam air. Zat padatnya mudah menyublim jika dipanaskan. Larutannya bersifat asam. Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol yang tertutup rapat.
4 Ammonium sulphate Kristal berwarna putih, mudah larut dalam air. Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol yang tertutup rapat.
5 Benzene Zat cair tak berwarna, sangat mudah terbakar. Jika termakan, terhisap oleh kulit atau masuk melalui pernapasan dapat menyebabkan keracunan. Digunakan sesuai aturan pemakaian, hindarkan dari sumber api/disimpan dalam botol yang tertutup, dan disimpan dalam lemari, praktikan memakai masker saat menggunakan bahan tersebut.
6 Butanol Zat cair yang tak berwarna, mudah terbakar. Zat cair atau uapnya dapa mengganggu alat pernapasan, kulit dan mata. Digunakan sesuai aturan pemakaian, hindarkan dari sumber api/disimpan dalam botol yang tertutup, dan disimpan dalam lemari, praktikan memakai masker saat menggunakan bahan tersebut.
7 Bromthymol blue Suatu larutan dengan pH 6,0, jika ditetesi bromtimol biru berwarna kuning dan warna itu berubah menjadi biru, apabila pH laurtan naik mencapai 7,6 Digunakan sesuai aturan pemakaian/disimpaan di dalam botol yang tertutup rapat.
8 Calcium clorida Zat padat, apabila digunakan sebagai bahan pengering untuk gas atau zat cair bahan organik Digunakan sesuai aturan pemakaian
9 Chloroform Zat cair tak berwarna bersifat racun. Digunakan antara lain sebagai obat bius. Dalam lab. sering digunakan sebagai pelarut. Digunakan sesuai aturan pemakaian, praktikan memakai masker saat menggunakan bahan kimia tersebut/disimpan dalam botol.
10 Glukosa Zat padat, kristalnya tak berwarna. Termasuk golongan monosakarida. Digunakan sesuai aturan pemakaian/disimpan dalam botol.
11 Formalin 40 % Digunakan sebagai pencegah hama, dan sebagai cairan untuk merendam hewan-hewan kecil yang diawetkan. Digunakan sesuai autran pakai, praktikan memakai masker saat menggunakan bahan tersebut/disimpan dalam botol.
12 Ethanol Zat cair, mudah terbakar. Biasa disebut alcohol. Digunakan sebagai pelarut. Digunakan sesuai aturan pakai, hindarkan dari sumber api/disimpan di dalam botol.
13 Iodine crystal Digunakan untuk membuktikan adanya amilum (kanji). Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol, dan disimpan terpisah dari bahan-bahan kimia lainnya, karena dapat merusak label botol.
14 Magnesium sulphate Zat padat, disebut juga garam inggris Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol yang kering
15 Potassium chloride Zat padat, Kristal berwarna putih Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol, dan diletakkan di temapt yang kering
16 Sodium carbonate Kristal putih. Garam yang mudah larut, disebut juga soda cuci Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol, dan diletakkan di temapt yang kering
17 Sodium chloride Zat padat, putih Kristal, biasa disebut garam dapur Digunakan sesuai aturan pakai, disimpan ditempat yang kering.
18 Sodium hydroxide Zat putih bersifat sangat mudah menyerap air dari udara, sehingga mncair dan larut. Digunakan sesuai aturan pakai/disimpan dalam botol dan diletakkan di tempat yang kering
19 Sulphuris acid, technical Zat cair, racun dan sangat korosit. Menimbulkan luka bakar yang parah, jika kena kulit dan mata. Digunakan sebagai asam kuat. Digunakan sesuai aturan pakia, hindarkan dari contak langsung dengan kulit/disimpan dalam botol kaca yang berwarna gelap dan disimpan di lemari asam.
20 Litmus paper, blue Gulungan kertas, berwarna biru, kertas lakmus biru berubah menjadi merah kalau ditetesi suatularutan yang bersifat asam Digunakan sesuai aturan pakai, hindarkan dari tempat-tempat yang basah/disimpan dalam suatu wadah tersendiri yang kering
21 Litmus paper, red Gulungan kertas berwarna merah, kertas lakmus merah berubah menjadi biru jika ditetesi larutan yang bersifat basah Digunakan sesuai aturan pakai, hindarkan dari tempat-tempat yang basah/disimpan dalam suatu wadah tersendiri yang kering


Sumber informasi: Garuda, S.Pd dan Ibu Ramla,




TUGAS TEKHNIK LABORATORIUM




ALAT-ALAT DAN BAHAN-BAHAN KIMIA
YANG SERING DIGUNAKAN DI
LABORATORIUM UNIT BIOLOGI





OLEH

WAODE RACHMAWATI
A1C2 09 060
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar